Thursday, August 20, 2015

Sebab Awal Kerusakan Transmisi Matic

 Sebab Awal Kerusakan Transmisi Matic

Tren penggunaan transmisi matik pada mobil di Indonesia meningkat. Pengoperasiannya pun lebih mudah ketimbang yang manual, tanpa harus menginjak pedal kopling. Kendati begitu, bukan berarti manusia tidak bisa melakukan kesalahan. Dan, perilaku salah dapat membuat usia pakai transmisi matik menjadi lebih singkat.

Ada kelalaian-kelalaian kecil, walau tidak fatal, menjadi awal kerusakan transmisi matik. Seperti apa kelalaian tersebut?

* Tidak memindahkan tuas ke N. Saat berhenti lama di tengah kemacetan atau saat lampu merah, terkadang pengemudi terus memanteng tongkat transmisi pada posisi D. Kondisi ini membuat transmisi bekerja ekstra lantaran harus bekerja saat suplai udara segar terbatas. Jika berhentinya lebih 60 detik, segera pindahkan transmisi ke N agar pelumas tidak meningkat drastis.

* Tancap gas masuk ke D. Saat mengantre di lampu rambu, begitu tanda hijau menyala, kerap pengemudi langsung memindahkan tongkat ke D dan langsung menginjak pedal gas. Padahal, transmisi perlu waktu untuk melakukan proses engage dengan memindahkan tekanan fluida ke arah torque converter. Jika kebiasaan ini sering dilakukan maka katup selenoid di dalam rumah transmisi mudah rusak.

* Sering melakukan engine brake. Untuk memperoleh efek engine brake, boleh digunakan pada gigi rendah. Namun, perpindahan dilakukan pada saat putaran mesin di 3.000 rpm. Sebab, bila di atas itu, bisa terjadi hard friction dan akan mengurangi umur pakai kopling gesek di dalam trasmisi.

* Pindah posisi dari D ke R. Memindahkan tuas persneling dari D ke R (hendak parkir) perlu kecepatan tangan. Namun, bila dilakukan dengan kasar, maka transmisi konvensional dapat berakibat kerusakan pada planetary gear dan one way clutch. Sementara komponen di luar transmisi yang terpengaruh seperti cross joint pada as kopel, engine mounting dan as roda (penggerak roda depan).

* Menahan transmisi di gigi 1. Kebutuhan engine brake di jalanan menurun curam atau performa akselerasi di jalanan tanjakan, tentu butuh gigi 1. Tapi, sebaiknya kondisi ini dilakukan seperlunya saja dan dihindari ketika menghadapi kondisi jalan normal (rata). Sebab, beban kopling semakin berat. Apalagi bila dilanjutkan ke gigi tinggi pada transmisi otomatis konvensional yang masih menggunakan katup. Bisa membuat performa komponen per di balik akuator piston bisa bermasalah akibat tekanan berlebihan

No comments:

Post a Comment